Ashanty Pilih Tak Unggah Konten Jika Makanan Tak Enak. Dunia kuliner dan pembuatan konten media sosial saat ini menjadi dua hal yang tidak dapat di pisahkan, terutama bagi kalangan selebritas. Ashanty, sebagai salah satu figur publik yang aktif di platform YouTube dan Instagram, memiliki prinsip yang sangat kuat dalam menjaga kredibilitasnya. Istri dari Anang Hermansyah ini baru-baru ini mengungkapkan sebuah fakta menarik mengenai cara dirinya mengelola konten ulasan makanan.
Secara tegas, Ashanty pilih tak unggah konten jika makanan tak enak demi menjaga kejujuran kepada pengikutnya. Keputusan ini di ambil bukan tanpa alasan yang mendalam. Baginya, kepercayaan dari publik jauh lebih berharga di bandingkan sekadar mendapatkan penayangan atau memenuhi jadwal unggahan konten harian.
Ashanty Pilih Menjaga Kredibilitas Review Makanan
Sebagai seorang pesohor yang memiliki jutaan pengikut, setiap ucapan dan rekomendasi dari Ashanty memiliki pengaruh yang besar. Oleh karena itu, ia merasa memiliki tanggung jawab moral yang tinggi terhadap apa yang ia sampaikan. Kejujuran menjadi mata uang utama dalam industri konten digital yang kian kompetitif, di mana satu rekomendasi bisa berdampak pada reputasi restoran maupun pengalaman pengikutnya. Ashanty pun menyadari bahwa kepercayaan pengikutnya adalah aset berharga yang harus dijaga dengan cermat.
Jika sebuah makanan di rasa kurang memenuhi standar lidahnya, ia lebih memilih untuk menyimpan rekaman tersebut di memori pribadinya saja. Selain menjaga integritas review, langkah ini juga mencerminkan sikap profesionalnya dalam menghadapi tekanan untuk selalu tampil positif. Baginya, review yang jujur bukan hanya soal kritik, tetapi juga edukasi bagi pengikut agar bisa membuat pilihan yang tepat, sekaligus menjadi dorongan bagi pelaku usaha kuliner untuk terus meningkatkan kualitas.
Menghindari Kekecewaan Penggemar
Salah satu alasan utama di balik sikap selektif ini adalah keinginan untuk tidak mengecewakan para penggemar. Ashanty menyadari bahwa banyak orang yang menjadikan ulasannya sebagai referensi sebelum membeli atau mengunjungi sebuah restoran. Apabila ia mempromosikan sesuatu yang sebenarnya tidak layak secara rasa, maka kepercayaan publik terhadapnya akan runtuh seketika.
Oleh sebab itu, proses kurasi konten dilakukan dengan sangat ketat oleh tim kreatifnya. Meskipun video sudah di ambil dengan sinematografi yang apik, semua itu bisa di batalkan jika rasa makanannya tidak sesuai dengan ekspektasi. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas substansi tetap menjadi prioritas utama bagi ibu dari Arsy dan Arsya ini.
Ashanty Pilih Menghormati Pemilik Usaha Kuliner
Meskipun Ashanty memilih untuk tidak mengunggah konten yang di anggap kurang memuaskan, bukan berarti ia memberikan kritik tajam secara terbuka di depan kamera yang akan di tonton jutaan orang. Ia memahami betapa sulitnya membangun sebuah bisnis kuliner. Dengan tidak mengunggah konten yang buruk, ia juga berusaha untuk menjaga perasaan dan kelangsungan bisnis pemilik usaha tersebut.
Daripada menjatuhkan reputasi sebuah warung atau restoran melalui video ulasan yang negatif, Ashanty lebih memilih untuk memberikan masukan secara pribadi jika memungkinkan. Langkah ini dianggap lebih bijak dan profesional dalam menjaga hubungan antar sesama pelaku industri kreatif dan kuliner.
Baca Juga : Kritik King Abdi Soal Gaya Review Food Vlogger Masa Kini
Ashanty Pilih Kualitas Rasa Versi Keluarga Hermansyah
Keluarga Hermansyah memang di kenal memiliki selera kuliner yang cukup tinggi. Hal ini wajar mengingat mereka juga memiliki berbagai lini bisnis di bidang makanan. Kualitas rasa menjadi hal yang sangat di perhatikan, baik saat menyajikan hidangan sehari-hari maupun dalam pengembangan produk kuliner mereka. Setiap bahan yang di gunakan, metode memasak, hingga penyajian selalu melalui proses seleksi yang ketat untuk memastikan cita rasa yang konsisten dan memuaskan.
Standar yang di tetapkan oleh Ashanty tidak hanya berdasarkan selera pribadinya, tetapi juga sering kali melibatkan pendapat anggota keluarga lainnya. Diskusi keluarga menjadi bagian penting dari proses ini, di mana setiap anggota dapat memberikan masukan tentang rasa, tekstur, hingga aroma. Dengan demikian, hasil akhirnya bukan hanya mencerminkan satu selera, tetapi menjadi representasi dari kesepakatan seluruh keluarga Hermansyah dalam menjaga kualitas kuliner mereka.
Konsistensi dalam Konten Digital
Konsistensi tidak hanya bicara soal frekuensi unggahan, tetapi juga soal konsistensi nilai. Dengan berpegang pada prinsip “enak bilang enak, tidak enak diam saja”, Ashanty membangun citra sebagai reviewer yang dapat di andalkan. Publik kini mengetahui bahwa jika Ashanty mengunggah sebuah rekomendasi makanan, maka produk tersebut memang benar-benar memiliki kualitas yang baik.
Penerapan standar yang tinggi ini di akui cukup menantang. Terkadang, tim produksi harus merelakan waktu dan biaya yang telah di keluarkan untuk syuting di lokasi tertentu. Namun, bagi Ashanty, risiko kerugian operasional tersebut jauh lebih kecil di bandingkan risiko kehilangan integritas sebagai seorang figur publik.
Dampak Positif bagi UMKM yang Terpilih
Di sisi lain, kebijakan ini memberikan dampak yang sangat positif bagi para pelaku UMKM yang berhasil masuk ke dalam kontennya. Karena Ashanty hanya mengunggah konten yang menurutnya benar-benar berkualitas, maka video tersebut berfungsi sebagai sertifikat kepercayaan bagi penonton. Lonjakan pesanan biasanya langsung terjadi sesaat setelah video ulasan tersebut di tayangkan.
Kehati-hatian dalam memilih konten ini justru membuat promosi yang di lakukan Ashanty menjadi lebih efektif. Hal ini di karenakan audiens sudah menyaring informasi bahwa konten tersebut bukanlah sekadar iklan berbayar tanpa kurasi, melainkan sebuah rekomendasi jujur dari seseorang yang peduli pada kualitas rasa.
Menghadapi Tekanan Sebagai Influencer Kuliner
Tentu saja, posisi sebagai seorang figur publik memberikan tekanan tersendiri. Banyak pemilik usaha yang berharap mendapatkan sorotan dari kamera Ashanty. Namun, Ashanty tetap teguh pada pendiriannya. Ia sering kali memberikan masukan secara pribadi kepada pemilik usaha jika memang ada hal yang perlu di perbaiki, tanpa harus mengumumkannya di media sosial.
Pendekatan secara personal ini di anggap lebih efektif dan manusiawi. Dengan cara tersebut, pemilik usaha mendapatkan kritik yang membangun secara langsung, sementara citra mereka di mata publik tetap terjaga. Ashanty percaya bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki kualitas Makanan mereka sebelum benar-benar siap untuk di promosikan secara luas ke seluruh Indonesia.


Tinggalkan Balasan