Salah Paham Food Vlogger Diserang Jukir di Surabaya. Salah paham berujung aksi kasar menimpa seorang konten kreator kuliner di pusat Kota Pahlawan baru-baru ini. Peristiwa yang melibatkan adu mulut hingga tindakan intimidasi fisik ini bermula dari masalah yang sebenarnya sepele, yakni kesalahpahaman antara food vlogger dan oknum juru parkir (jukir) liar di kawasan kuliner populer Surabaya. Ketegangan memuncak saat jukir tersebut merasa keberatan dengan aktivitas perekaman video di area kerjanya.
Kejadian ini pun viral di media sosial dan memicu gelombang kritik dari warga net terkait keamanan serta penataan parkir di zona wisata kuliner Surabaya. Banyak pihak menyayangkan aksi premanisme tersebut karena di nilai dapat mencoreng citra keramahan kota dan merugikan para pelaku usaha kecil yang bergantung pada promosi digital. Saat ini, kasus tersebut telah menarik perhatian pihak berwenang untuk melakukan penertiban lebih ketat terhadap jukir liar guna memastikan ruang publik tetap aman bagi para pemburu konten maupun wisatawan lokal.
Insiden Salah Paham Diarea Kuliner Surabaya
Peristiwa ini terjadi pada akhir pekan lalu saat kondisi jalanan sedang cukup padat oleh pengunjung yang berburu kuliner malam. Menurut saksi mata di lokasi kejadian, perselisihan di picu oleh posisi parkir kendaraan tim produksi vlogger yang di anggap menghalangi akses kendaraan lain oleh sang juru parkir (jukir). Meskipun area tersebut merupakan ruang publik, pengaturan parkir sering kali menjadi isu sensitif di titik-titik keramaian Surabaya, terutama saat volume kendaraan meningkat drastis di jam makan malam.
Situasi sempat memanas ketika kedua belah pihak terlibat adu argumen yang menarik perhatian warga serta pengunjung di sekitar lokasi. Ketegangan baru mereda setelah petugas keamanan setempat dan beberapa tokoh masyarakat turun tangan untuk memediasi perselisihan tersebut. Pihak tim produksi akhirnya bersedia memindahkan kendaraan mereka ke area yang lebih luas, sementara pihak jukir di ingatkan untuk tetap mengedepankan komunikasi yang persuasif.
Kronologi Salah Paham di Balik Ketegangan
Ketegangan mulai meningkat ketika sang jukir meminta uang parkir lebih awal dengan nada yang cukup tinggi. Pihak vlogger yang saat itu tengah fokus menyetel peralatan kamera merasa terganggu dan meminta waktu sebentar. Respons ini rupanya di tangkap sebagai bentuk penolakan oleh sang jukir. “Situasi langsung memanas karena kedua belah pihak sama-sama tidak mau mengalah. Jukir merasa wilayahnya tidak di hormati, sedangkan vlogger merasa di palak secara tidak sopan.”
Upaya Mediasi oleh Warga Sekitar
Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, beberapa pengunjung dan pemilik gerai makanan berusaha melerai. Tindakan persuasif di lakukan agar keributan tidak merusak citra kawasan kuliner tersebut. Namun, emosi yang sudah meluap membuat proses mediasi di tempat berjalan alot. Beruntung, pihak kepolisian yang sedang berpatroli segera tiba di lokasi untuk meredakan suasana sebelum jatuh korban luka.
Baca Juga : Farida Nurhan Food Vlogger Sukses
Dampak Viralitas dan Tanggapan Netizen
Setelah video insiden tersebut tersebar luas di berbagai platform media sosial. Netizen pun terbelah menjadi dua kubu dalam menanggapi konflik tersebut. Sebagian besar warga net melayangkan kecaman keras terhadap aksi premanisme yang di lakukan oleh oknum juru parkir liar. Yang di nilai sudah lama meresahkan wisatawan maupun warga lokal di Surabaya. Praktik pungutan tidak resmi dengan nada intimidasi ini di anggap merusak citra pariwisata kota dan menciptakan rasa tidak aman bagi pengunjung yang ingin menikmati kuliner daerah.
Di sisi lain, muncul pula gelombang kritik yang menyasar perilaku para pembuat konten di ruang publik. Sebagian warga net menyayangkan etika para food vlogger yang terkadang di anggap kurang peka terhadap lingkungan sekitar, terutama saat melakukan proses syuting di area umum yang sempit dan padat. Mereka di nilai sering kali memakan ruang jalan atau mengganggu kenyamanan pengguna fasilitas umum lainnya demi mendapatkan sudut pengambilan gambar yang estetik.
Evaluasi Aturan Parkir di Surabaya
Insiden ini kembali memicu diskusi publik mengenai urgensi penertiban parkir liar oleh Dinas Perhubungan Kota Surabaya. Pengawasan yang ketat sangat di butuhkan agar konflik serupa tidak terulang kembali, terutama di zona-zona wisata yang menjadi wajah kota. Keamanan bagi para kreator konten dan kenyamanan wisatawan harus di jamin agar ekosistem ekonomi kreatif tetap bertumbuh secara positif.
Mengatasi Salah Paham Dalam Komunikasi
Banyak pihak menilai bahwa komunikasi adalah kunci utama dalam mencegah konflik di ruang publik. Para pembuat konten di harapkan dapat melakukan izin secara informal kepada pengelola lingkungan setempat sebelum memulai aktivitas profesional mereka. Hal ini di lakukan guna membangun rasa saling menghormati antara pendatang dan pekerja lapangan di wilayah tersebut. Pihak kepolisian setempat kini tengah mendalami laporan yang masuk terkait tindakan tidak menyenangkan dan ancaman kekerasan.
Perlindungan Bagi Konten Kreator di Ruang Publik
Fenomena ini membuka diskusi lebih luas mengenai payung hukum bagi para konten kreator yang bekerja di tempat umum. Meskipun hak privasi tetap harus di hormati, tindakan intimidasi fisik sama sekali tidak dapat di benarkan dalam hukum di Indonesia. Para pelaku industri kreatif di harapkan tetap mengedepankan komunikasi yang santun dan meminta izin. Secara verbal sebelum memulai perekaman yang melibatkan orang lain secara dominan di dalam frame.
Keamanan di kawasan wisata kuliner Surabaya menjadi prioritas utama agar citra kota sebagai destinasi ramah wisatawan tetap terjaga. Koordinasi antara komunitas kreatif, pengelola tempat usaha. Dan petugas keamanan setempat sangat di butuhkan untuk menciptakan ekosistem yang kondusif. Dengan adanya sinergi ini, di harapkan tidak ada lagi pihak yang merasa di rugikan atau terancam saat melakukan aktivitas positif di ruang publik.


Tinggalkan Balasan