Berendam Nutella Vlogger Tuai Kecaman. Dunia maya kembali di hebohkan oleh aksi kontroversial seorang pembuat konten yang demi mengejar angka tayangan rela melakukan tindakan di luar nalar. Baru-baru ini, jagat media sosial di guncang oleh sebuah video viral yang memperlihatkan seorang vlogger melakukan aksi mandi di dalam bak berisi cokelat oles ternama, Nutella. Bukannya mendapatkan apresiasi atas kreativitasnya, tindakan tersebut justru memicu gelombang kritik pedas dari netizen di seluruh dunia.

Aksi berendam Nutella ini di anggap oleh banyak pihak sebagai bentuk pemborosan makanan yang sangat tidak etis. Dalam video berdurasi sepuluh menit tersebut, sang vlogger terlihat menuangkan ratusan toples cokelat ke dalam bathtub hingga penuh. di perkirakan puluhan kilogram cokelat yang seharusnya layak di konsumsi justru dibuang begitu saja hanya untuk kebutuhan estetika konten sesaat.

Bahaya Berendam Nutella untuk Kesehatan Kulit

Paparan gula berlebih dalam durasi lama dapat memicu ketidakseimbangan mikrobioma pada permukaan kulit. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan jamur Candida dan bakteri patogen, yang sering kali berujung pada infeksi kulit parah, gatal-gatal, hingga peradangan atau dermatitis kontak. Selain itu, tekstur lengket dari cairan cokelat tersebut berisiko menyumbat pori-pori secara masif, yang tidak hanya memicu jerawat di seluruh tubuh tetapi juga menghambat proses respirasi alami kulit.

Risiko yang jauh lebih fatal mengintai kesehatan organ intim, di mana tingkat keasaman (pH) sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Gula yang masuk ke area sensitif dapat mengganggu populasi bakteri baik, sehingga memicu infeksi saluran kemih (ISK) atau vaginosis bakterialis yang memerlukan penanganan medis serius. Para ahli menekankan bahwa kulit adalah organ pelindung utama tubuh, dan memperlakukannya sebagai “media konten”.

Dampak Buruk Berendam Nutella Infeksi Jamur

Kandungan gula yang luar biasa tinggi pada cokelat oles dapat menjadi media pertumbuhan yang sempurna bagi bakteri dan jamur. Kulit manusia memiliki keseimbangan pH tertentu yang dapat terganggu secara drastis jika terpapar zat manis dalam waktu lama. Risiko infeksi saluran kemih (ISK) dan iritasi kulit menjadi ancaman nyata bagi siapa pun yang mencoba meniru aksi ini.

Penyumbatan Pori-pori dan Alergi

Tekstur Nutella yang kental dan berminyak di pastikan akan menyumbat pori-pori secara menyeluruh. Hal ini dapat memicu timbulnya jerawat di seluruh tubuh atau folliculitis. Selain itu, bagi individu yang memiliki alergi terhadap kacang hazelnut atau bahan tambahan lainnya, aksi ini bisa berujung pada syok anafilaksis yang membahayakan nyawa.

Baca Juga : Tips Jadi Vlogger Hits ala Gita Savitri

Makanan Dibalik Tren Konten Berendam Nutella

Dalam video berdurasi sepuluh menit tersebut, terlihat sang vlogger menuangkan wadah demi wadah selai cokelat ke dalam bathtub hingga penuh. Estimasi biaya yang di keluarkan untuk aksi ini di prediksi mencapai puluhan juta rupiah. Hal inilah yang menjadi pemantik utama kemarahan netizen. Banyak komentar pedas yang di layangkan kepada sang kreator, menuduhnya tidak memiliki empati terhadap kondisi sosial saat ini.

Ketidaksukaan publik di perparah oleh fakta bahwa Nutella merupakan produk pangan yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Ketika bahan makanan tersebut di buang begitu saja hanya untuk durasi video yang singkat, nilai moral dari konten tersebut di anggap nol besar. Kritik tidak hanya datang dari netizen biasa, tetapi juga dari kalangan aktivis sosial yang vokal menyuarakan isu ketimpangan distribusi pangan.

Dampak Lingkungan dan Masalah Sanitasi

Selain masalah etika pemborosan, aksi berendam Nutella ini juga di soroti dari sisi kesehatan dan lingkungan. Para ahli lingkungan memperingatkan bahwa pembuangan selai dalam jumlah masif ke saluran pembuangan rumah tangga dapat menyebabkan penyumbatan serius. Kandungan minyak dan lemak yang tinggi pada selai cokelat akan membeku dan menempel pada pipa, yang pada gilirannya dapat merusak sistem sanitasi lingkungan sekitar.

Respons Vlogger Terhadap Hujatan Netizen

Hingga berita ini di turunkan, sang vlogger yang bersangkutan telah memberikan pernyataan singkat melalui akun media sosial pribadinya. Bukannya meminta maaf secara tulus, ia justru berdalih bahwa aksi tersebut di lakukan murni untuk tujuan hiburan dan seni visual. Ia juga mengklaim bahwa selai yang di gunakan adalah produk yang sudah mendekati masa kedaluwarsa. Meskipun klaim ini di ragukan oleh banyak pihak karena tampilan produk yang terlihat masih sangat segar.

Standar Etika Kreator Konten di Era Digital

Fenomena ini memicu diskusi panjang mengenai sejauh mana seorang kreator boleh bereksperimen demi mendapatkan engagement. Algoritma media sosial yang cenderung memprioritaskan konten yang aneh dan provokatif di sinyalir menjadi pendorong utama di balik aksi-aksi ekstrem seperti ini. Vlogger seringkali merasa terjepit oleh tekanan untuk terus menghadirkan sesuatu yang baru, meskipun harus mengorbankan logika dan empati.

Pihak platform video sendiri di desak untuk lebih memperketat kebijakan terkait konten yang mempromosikan pemborosan sumber daya. Meskipun video tersebut tidak melanggar aturan kekerasan secara fisik. Dampak psikologis dan sosial dari normalisasi pembuangan makanan secara masif di anggap berbahaya bagi edukasi generasi muda yang menjadi audiens utama sang vlogger.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *