Kritik King Abdi Soal Gaya Review Food Vlogger Masa Kini. Fenomena food vlogger di Indonesia telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Platform digital seperti TikTok, Instagram, dan YouTube dipenuhi oleh konten kreator yang mengulas berbagai jenis kuliner. Mulai dari jajanan kaki lima hingga restoran mewah. Kehadiran para food vlogger ini tidak hanya memudahkan masyarakat dalam menemukan rekomendasi makanan. Tetapi juga memberikan peluang bagi pelaku usaha kuliner untuk mempromosikan produknya secara lebih luas. Popularitas konten kuliner pun meningkat seiring dengan kreativitas dan gaya penyajian yang menarik, sehingga membuat ulasan makanan menjadi bagian dari hiburan digital sehari-hari.
Namun, di tengah masifnya konten tersebut, muncul kritik tajam dari salah satu figur kuliner ternama, King Abdi. Peserta MasterChef Indonesia Season 10 ini menyoroti pergeseran nilai dalam ulasan makanan yang di lakukan oleh para konten kreator masa kini. Ia menekankan bahwa banyak ulasan kini lebih menonjolkan sensasi atau hiburan semata, di bandingkan dengan objektivitas dan pengetahuan kuliner yang mendalam. Menurutnya, hal ini berpotensi menyesatkan penikmat kuliner dan mengubah standar penilaian makanan menjadi lebih dangkal, sehingga esensi dari pengalaman kuliner itu sendiri menjadi kurang di hargai.
Kritik King Abdi Soal Kejujuran dalam Mengulas Makanan
Kritik utama yang di lontarkan oleh King Abdi berkaitan dengan aspek kejujuran. Menurutnya, banyak food vlogger saat ini yang lebih mengutamakan estetika visual dan hubungan baik dengan pemilik kedai di bandingkan memberikan ulasan yang objektif. King Abdi menekankan bahwa seorang pengulas memiliki tanggung jawab besar terhadap pengikutnya. Jika sebuah makanan di katakan enak padahal kenyataannya tidak, hal tersebut di anggap sebagai bentuk pembohongan publik yang merugikan konsumen. Ia juga menyoroti bahwa tren mempromosikan konten yang “instagramable” seringkali membuat penilaian rasa makanan menjadi sekadar tambahan, bukan fokus utama.
Menurut King Abdi, kejujuran dalam ulasan makanan bukan hanya soal integritas pribadi. Tetapi juga soal membangun kepercayaan jangka panjang dengan audiens. Pengulas yang konsisten menyampaikan pendapat jujur, meskipun kritis, akan di hargai oleh pengikutnya karena memberikan informasi yang benar-benar bermanfaat. Dengan demikian, etika dan kejujuran menjadi fondasi penting bagi siapa pun yang ingin berperan sebagai pengulas makanan profesional, sekaligus menjaga kredibilitas konten yang mereka hasilkan.
Kritik King Abdi Soal Rasa yang Dimasak
Dalam pandangan King Abdi, teknik memasak dan kualitas bahan seharusnya menjadi indikator utama dalam sebuah ulasan. Namun, sering kali di temukan konten yang hanya mengandalkan ekspresi wajah yang berlebihan atau kata-kata hiperbolis tanpa menjelaskan profil rasa secara mendalam. Kritik ini di tujukan agar para kreator mulai belajar lebih banyak tentang fundamental rasa, sehingga penilaian yang di berikan tidak hanya bersifat subjektif semata.
Dampak Rating Palsu bagi UMKM
Selain merugikan konsumen, ulasan yang tidak jujur juga di nilai dapat berdampak buruk bagi pelaku UMKM dalam jangka panjang. Ketika seorang vlogger memberikan pujian setinggi langit pada makanan yang kualitasnya rendah, penonton akan datang dengan ekspektasi tinggi. Saat ekspektasi tersebut tidak terpenuhi, konsumen akan merasa kecewa dan memberikan citra buruk pada warung tersebut. King Abdi menyarankan agar kritik di berikan secara konstruktif namun tetap jujur agar pedagang dapat memperbaiki kualitas produk mereka.
Baca Juga : Besaran Gaji Karyawan Bang Madun Sebelum Kena PHK
Tren Konten yang Terlalu Mengejar Viralitas
Fenomena “FYP” atau viralitas sering kali membuat kualitas informasi dalam video menjadi terpinggirkan. King Abdi melihat adanya kecenderungan di mana para food vlogger lebih fokus pada durasi video yang singkat dan transisi yang cepat demi algoritma. Hal ini sering kali menghilangkan esensi dari ulasan kuliner itu sendiri. Informasi mengenai lokasi, harga, hingga detail bahan baku sering kali terlewatkan demi mengejar engagement yang tinggi. Akibatnya, penonton lebih sering mendapatkan hiburan instan daripada wawasan yang mendalam tentang kuliner yang di ulas.
Selain itu, tekanan untuk selalu tampil menarik dan cepat viral juga memengaruhi kreativitas para konten kreator. Mereka cenderung menggunakan efek visual berlebihan atau gimmick tertentu yang terkadang tidak relevan dengan isi konten. Hal ini membuat batas antara hiburan dan informasi semakin kabur, sehingga pengalaman belajar atau referensi kuliner bagi penonton menjadi kurang maksimal.
Penggunaan Bahasa yang Seragam
Jika di perhatikan secara saksama, banyak kreator yang menggunakan diksi yang serupa dalam setiap videonya. Kata-kata seperti “lumer di mulut,” “nggak ada lawan,” atau “rasanya pecah banget” seolah menjadi template wajib. King Abdi mendorong adanya orisinalitas dalam penyampaian. Setiap makanan memiliki cerita dan karakter yang berbeda, sehingga penggunaan bahasa yang kreatif dan deskriptif sangat di perlukan untuk memberikan gambaran yang akurat kepada pemirsa.
Fenomena Food Vlogger “Gratisan”
Kritik lain yang cukup pedas adalah mengenai perilaku oknum pengulas yang memanfaatkan jumlah pengikut untuk mendapatkan makanan gratis atau bahkan meminta bayaran di luar nalar kepada pedagang kecil. King Abdi mengingatkan bahwa profesi ini seharusnya di dasari oleh kecintaan terhadap kuliner. Bukan sekadar alat untuk mendapatkan keuntungan pribadi dengan cara yang kurang etis. Profesionalisme harus tetap di jaga, baik saat bekerja sama secara resmi maupun saat melakukan ulasan secara mandiri.
Kritik King Abdi Membangun Ekosistem Kuliner yang Sehat
Tujuan dari kritik yang di sampaikan King Abdi bukanlah untuk menjatuhkan para kreator muda. Melainkan untuk membangun ekosistem kuliner digital yang lebih sehat di Indonesia. Dengan adanya standar yang jelas, masyarakat akan mendapatkan edukasi yang benar mengenai Review makanan. Hal ini juga membantu menumbuhkan budaya literasi kuliner yang lebih kuat, di mana konsumen mampu membedakan antara ulasan yang objektif dan sekadar promosi.
Para pelaku usaha juga akan terpacu untuk terus menjaga kualitas produk mereka karena tahu bahwa pengulas saat ini semakin kritis dan berwawasan luas. Selain itu, kritik yang membangun dapat menjadi sarana pembelajaran bagi kreator muda. Mendorong mereka untuk inovatif dan konsisten dalam menghadirkan konten yang bermanfaat. Dengan demikian, ekosistem kuliner digital tidak hanya berkembang dari segi jumlah, tetapi juga dari segi kualitas, kredibilitas, dan keberlanjutan.


Tinggalkan Balasan