Tak Mampu Bayar Sewa Pria Ini Tinggal di Pohon 6 Bulan. Fenomena krisis ekonomi yang melanda berbagai belahan dunia sering kali memaksa seseorang untuk mengambil keputusan yang ekstrem demi bertahan hidup. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan urban yang semakin mahal, sebuah kisah tragis sekaligus mencengangkan muncul dari pinggiran kota. Seorang pria paruh baya di laporkan telah menjalani kehidupan yang tidak biasa dengan menetap di atas pohon selama enam bulan terakhir akibat ketidakmampuannya dalam membayar biaya sewa tempat tinggal.

Kisah ini bermula ketika pria yang berinisial AS tersebut kehilangan pekerjaan tetapnya sebagai buruh harian. Tanpa adanya penghasilan yang stabil, tunggakan sewa rumah petaknya semakin menumpuk hingga akhirnya ia di minta untuk mengosongkan hunian tersebut oleh pemilik bangunan. Tanpa kerabat dekat dan tabungan yang memadai, AS memutuskan untuk membangun “rumah” sementara di dahan pohon besar yang terletak di area hutan kota yang jarang di lalui orang.

Tinggal di Atas Pohon karena Tidak Mampu Bayar

Keputusan untuk tinggal di atas pohon bukanlah sebuah pilihan yang di ambil dengan sengaja untuk mencari sensasi. Menurut pengakuan AS, ia merasa sangat terdesak oleh keadaan ekonomi yang tidak kunjung membaik. Harga sewa properti yang terus meroket tidak sebanding dengan upah minimum yang bisa di dapatkan oleh pekerja sektor informal.

Selama enam bulan menetap di sana, AS merakit sebuah platform sederhana menggunakan papan bekas dan terpal plastik. Ruang yang sangat terbatas tersebut di gunakan untuk tidur dan menyimpan beberapa helai pakaian serta peralatan masak seadanya. Meskipun kondisi tersebut sangat tidak layak bagi kesehatan dan keamanan manusia.

Tak Mampu Bayar Ini Cara Dia Bertahan Hidup Di Cuaca Ekstrem

Kehidupan di atas pohon tentu saja penuh dengan risiko yang mengancam nyawa. Selama masa tinggalnya, AS harus menghadapi berbagai macam tantangan alam, mulai dari hujan lebat hingga angin kencang yang bisa sewaktu-waktu merobohkan tempat tinggal daruratnya. Karena lokasinya yang tinggi, risiko terjatuh saat tidur atau saat melakukan aktivitas harian selalu mengintai setiap saat.

Dampak Psikologis dan Respon Masyarakat Sekitar

Secara psikologis, isolasi mandiri di atas pohon ini memberikan dampak yang cukup besar bagi kesehatan mental AS. Rasa kesepian dan perasaan terasing dari masyarakat membuatnya menjadi sosok yang sangat tertutup. Walaupun terkadang ia merasa tenang karena jauh dari kebisingan kota, kerinduan akan kehidupan yang normal dan interaksi sosial tetap tidak bisa di sembunyikan. Hal ini menunjukkan bahwa kemiskinan tidak hanya menyerang fisik.

Baca Juga : Vlogger Korea Utara Viral Pamer Kehidupan Pyongyang

Kronologi Pengusiran Hingga Memutuskan Hidup di Pohon

Kehidupan Agus mulai berubah drastis ketika bengkel tempatnya bekerja selama belasan tahun terpaksa gulung tikar. Kehilangan pendapatan utama membuat tabungannya terkuras habis hanya dalam hitungan bulan. Meskipun upaya pencarian kerja baru telah di lakukan secara masif, faktor usia dan terbatasnya lapangan kerja membuat dirinya terus terhimpit oleh keadaan ekonomi yang tidak menentu.

Setelah menunggak pembayaran sewa selama tiga bulan berturut-turut, Agus akhirnya di minta meninggalkan kamar kos yang selama ini di tempatinya. Karena merasa sungkan untuk menumpang di rumah kerabat dan tidak ingin menjadi beban bagi orang lain, ia mulai mencari tempat berteduh yang tidak memerlukan biaya sepeser pun. Sebuah lahan kosong dengan pohon rimbun di pinggiran kota kemudian di pilih sebagai tempat pengungsian sementaranya.

Tak Mampu Bayar Ini Cara Bertahan Hidup di Atas Pohon

Aktivitas keseharian yang di lakukan oleh Agus di atas pohon sangatlah terbatas namun terorganisir. Ia membangun sebuah platform sederhana menggunakan papan kayu bekas dan terpal plastik untuk melindunginya dari hujan dan terik matahari. Untuk kebutuhan sanitasi, Agus memanfaatkan fasilitas umum yang terletak cukup jauh dari lokasinya menginap. Sementara itu, untuk kebutuhan makan, ia seringkali di bantu oleh warga sekitar yang merasa iba dengan kondisinya.

Respon Masyarakat dan Tindakan Pemerintah Setempat

Setelah berita mengenai keberadaan Agus viral di media sosial, berbagai bantuan mulai mengalir dari komunitas lokal dan organisasi kemanusiaan. Pihak pemerintah daerah pun akhirnya mulai turun tangan untuk memberikan solusi jangka pendek. Evakuasi telah di rencanakan agar Agus dapat di pindahkan ke rumah singgah yang lebih aman dan layak untuk di tinggali oleh manusia. Meskipun bantuan fisik telah di berikan, rehabilitasi psikologis juga sangat di butuhkan oleh individu yang telah lama terisolasi dari lingkungan sosial normal. 

Kehidupan Sehari-hari Bertahan di Alam Liar

Selama enam bulan menetap di atas Pohon, Salim harus beradaptasi dengan kondisi alam yang sangat tidak ramah. Kebutuhan dasar seperti air bersih dan sanitasi menjadi tantangan terbesar yang harus di hadapi setiap harinya. Untuk mendapatkan air minum, ia sering kali mengandalkan air hujan yang di tampung atau mencari sisa-sisan air bersih dari fasilitas umum yang berjarak cukup jauh dari tempat tinggalnya.

Keamanan juga menjadi isu krusial, mengingat risiko terjatuh dari ketinggian saat tidur sangatlah besar. Oleh karena itu, ia menggunakan tali pengaman sederhana yang di ikatkan ke pinggangnya setiap kali ia beristirahat di malam hari. Meskipun terlihat sangat berbahaya bagi orang awam, bagi Salim, tempat tersebut jauh lebih aman di bandingkan harus tidur di emperan toko yang sering kali menjadi sasaran penertiban petugas atau gangguan dari pihak luar yang tidak bertanggung jawab.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *